Wasiat Tentang Salat
Dikutip dari Majmû’ Washôyâ
Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri
Segala puji bagi Allah yang Baqa’1 dan Qidam2, Yang Maha Pemurah, penolak segala bencana, dan pemberi berbagai karunia. Ia menciptakan kita dari tiada, dan memelihara kita sejak dalam kegelapan rahim kemudian menuntun kita ke jalan yang paling benar.
Dikutip dari Majmû’ Washôyâ
Habib Hasan bin Sholeh Al-Bahr Al-Jufri
Segala puji bagi Allah yang Baqa’1 dan Qidam2, Yang Maha Pemurah, penolak segala bencana, dan pemberi berbagai karunia. Ia menciptakan kita dari tiada, dan memelihara kita sejak dalam kegelapan rahim kemudian menuntun kita ke jalan yang paling benar.
Segala puji bagi Allah. Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada
kita! Betapa banyak kebaikan telah Ia
curahkan kepada kita, kemudian Ia memberi kita pahala atas kebaikan-Nya itu dan
melipat- gandakannya! Dan betapa banyak
cela dan aib kita telah disembunyikan dan dirahasiakanNya.
Sesungguhnya pujian yang kusampaikan
ini adalah nikmat terbesar yang Ia berikan kepadaku. Aku bersaksi bahwa Tiada
Tuhan kecuali Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.
Kesaksian yang akan membentengi diriku dari segala kesulitan saat di Mahsyar3
nanti. Dan aku juga bersaksi, bahwa
sesungguhnya Sayidina Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, manusia yang paling
utama dalam memikul risalah dan segenap bebannya. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam
kepadanya, kepada keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang menempuh jalan
petunjuknya, serta mereka yang nasabnya bersambung kepadanya selama mereka masih
menyadari nikmat Allah, serta merasa malu dan berinabah kepada-Nya.
Amma Ba’du
Ketika kusadari bahwa diriku dan sebagian besar penduduk
kotaku merasa malas untuk salat, tidak mau salat berjamaah, tidak
berlomba-lomba untuk beramal saleh, tidak mendekatkan diri kepada Allah, dan
suka memboroskan waktu dalam kebatilan yang membingungkan akal sehat manusia,
maka aku ingin memberikan peringatan sesuai dengan pengetahuan yang telah
diajarkan Allah Yang Maha Tahu dan Mengerti.
Kuakui bahwa diriku penuh kekurangan,
namun nasihat ini kusampaikan dengan harapan Allah akan menyadarkan dan
membukakan pintu kepada siapa pun yang mau mendengarnya, sehingga ia bersedia
mencurahkan segenap tenaganya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari hisab,
memahami keagungan nikmat Allah, memohon ampun dan berinabah kepada-Nya.
Segala puji bagi Allah. Betapa banyak nikmat telah Ia berikan kepada
kita. Betapa banyak kebaikan telah Ia
karuniakan kepada kita. Betapa banyak
keburukan telah Ia hindarkan dari kita.
Alangkah beruntung orang yang menjawab panggilan-Nya. Betapa celaka orang yang berpaling dari
pintu-Nya lalu bermaksiat kepada-Nya.
Alangkah besar musibah yang ia alami!
Alangkah jelas kerugian yang akan ia derita di hari ketika Allah
menampakkan semua yang ia sembunyikan dan rahasiakan, saat kaki dan tangannya
menjadi saksi atas semua keburukan yang telah dilakukannya.
Hari ketika manusia lari dari
saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu
memiliki urusan yang sangat menyibukkannya.
(QS Abasa, 80:34-37)
(QS Abasa, 80:34-37)
Hari yang penuh dengan tangis dan air
mata karena keburukan yang selama ini disembunyikan, ditampakkan oleh Allah di
hadapan seluruh makhluk yang menghuni bumi dan langit. Hari saat manusia di hadapkan kepada Allah Yang
Maha Perkasa. Hari ketika alasan tak
lagi berguna.
Saudara-saudaraku, kinilah saat
berbekal bagi musafir yang berjalan menuju akhirat. Inilah saat untuk meraih keuntungan bagi
orang yang melakukan perdagangan.
Bersiap-siaplah untuk pindah, karena tidak ada jalan untuk menetap di
tempat ini. Bagaimana mungkin kita terus
menetap di sini!? Bukankah telah kalian
lihat orang-orang tua kalian satu demi satu meninggalkan dunia. Apakah orang yang menyaksikan semua ini masih
menginginkan bukti lagi?! Bersegeralah
sebelum hari yang panjang menyambut kalian, sebelum kalian beristirahat di
tempat yang sangat buruk, sebelum kalian menangis dan meratap menghadapi
bencana besar, hisab yang berat, perhitungan dari hal-hal yang paling kecil
sampai pada yang paling penting. Saat
itu kalian akan mendapati amal baik kalian, dan menyesali segala yang telah
kalian sia-siakan. Di hari itu
penyesalan tidak bermanfaat; alasan tidak didengar. Karena itu, manfaatkanlah waktu yang singkat
ini. Bangkitlah, bulatkan tekad kalian,
curahkan segenap tenaga, dan perbaikilah semua yang telah kalian telantarkan.
Saudara-saudara rahimakumullah,
ketahuilah bahwa sesungguhnya bencana yang dahsyat, perbuatan yang paling
buruk, dan aib yang paling nista adalah kurangnya perhatian masyarakat pada
salat lima waktu, salat Jumat dan salat jamaah, padahal semua itu adalah
ibadah-ibadah yang dengannya Allah meninggikan derajat dan menghapuskan
dosa-dosa maksiat. Dan salat adalah cara
ibadah seluruh penghuni bumi dan langit.
Rasulullah SAW bersabda: Langit merintih dan memang ia
pantas merintih, karena pada setiap tempat untuk berpijak terdapat malaikat
yang bersujud atau berdiri (salat) kepada Allah Azza Wa Jalla. (HR Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Orang yang meninggalkan salat karena
dilalaikan oleh urusan dunia akan celaka nasibnya, berat siksanya, merugi
perdagangannya, besar musibahnya, dan panjang penyesalannya. Ia dibenci oleh Allah, dan akan mati dalam
keadaan tidak Islam, tinggal di neraka jahim, atau kembali ke neraka hawiyah,
dilaknat oleh Allah, dan terusir dari bumi dan langit. Ia melelahkan malaikat pencatat
keburukan. Tempat tinggal dan tempat
kembalinya menjadi sempit. Ia dilaknat
dan dicaci-maki oleh rumahnya. Pakaian
yang menempel di tubuhnya mengumpatnya: Wahai musuh Allah, andaikan Allah tidak
menundukkan aku untukmu aku tak akan sudi menempel ditubuhmu! Kamu memakan rezeki Allah namun mengabaikan
kewajiban-kewajiban yang telah digariskan-Nya!
Dengarkanlah nasihatku tentang nasib
orang yang meninggalkan salat, baik semasa hidup maupun setelah meninggal. Sesungguhnya Allah merahmati orang yang
mendengarkan nasihat kemudian memperhatikan dan mengamalkannya.
Allah SWT berfirman:Sesungguhnya
salat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.
(QS An-Nisa`, 4:103)
Abu Hurairah RA meriwayatkan, “Setelah
Isya’ aku bersama Umar bin Khottob RA pergi ke rumah Abu Bakar AsShiddiq RA
untuk suatu keperluan. Sewaktu melewati
pintu rumah Rasulullah SAW, kami mendengar suara rintihan. Kami pun terhenyak dan berhenti sejenak. Kami dengar beliau menangis dan meratap.
‘Ahh..., andaikan saja aku dapat hidup
terus untuk melihat apa yang diperbuat oleh umatku terhadap salat. Ahh..., aku sungguh menyesali umatku.’
‘Wahai Abu Hurairah, mari kita ketuk
pintu ini,’ kata Umar RA.
Umar kemudian mengetuk pintu. ‘Siapa?’
tanya Aisyah RA. ‘Aku bersama Abu Hurairah.’
Kami meminta izin untuk masuk dan ia
mengizinkannya. Setelah masuk, kami
lihat Rasulullah SAW sedang bersujud dan menangis sedih, beliau berkata dalam
sujudnya:
“Duhai Tuhanku, Engkau adalah Waliku
bagi umatku, maka perlakukan mereka sesuai sifat-Mu dan jangan perlakukan
mereka sesuai perbuatan mereka.”
‘Ya Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi
tebusanmu. Apa gerangan yang terjadi,
mengapa engkau begitu sedih?’
‘Wahai Umar, dalam perjalananku ke
rumah Aisyah sehabis mengerjakan salat di mesjid, Jibril mendatangiku dan
berkata, ‘Wahai Muhammad, Allah Yang Maha Benar mengucapkan salam kepadamu,’
kemudian ia berkata, ‘Bacalah!’
‘Apa yang harus kubaca?’
‘Bacalah:Maka datanglah sesudah
mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa
nafsunya, mereka kelak akan menemui kesesatan. (QS Maryam, 19:59)
‘Wahai Jibril, apakah sepeninggalku
nanti umatku akan mengabaikan salat?’
‘Benar, wahai Muhammad, kelak di akhir
zaman akan datang sekelompok manusia dari umatmu yang mengabaikan salat,
mengakhirkan salat (hingga keluar dari waktunya), dan memperturutkan hawa
nafsu. Bagi mereka satu dinar lebih
berharga daripada salat.”
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu
Umar RA.
Allah SWT berfirman:“Mereka tidak
berhak memperoleh syafaat kecuali orang yang telah mengikat perjanjian di sisi
Tuhan Yang Maha Pengasih.”
(QS Maryam, 19:87)
Dalam menafsirkan ayat di atas
Rasulullah SAW bersabda bahwa yang dimaksud dengan mengikat perjanjian adalah
mengerjakan salat lima waktu.
Rasulullah SAW bersabda: Setelah tauhid, Allah tidak
mewajibkan kepada hamba-Nya suatu (amalan) yang lebih Ia sukai daripada
salat. Andaikan Allah lebih mencintai
suatu (amalan) selain salat, tentu para malaikat-Nya — yang di antara mereka
ada yang ruku’, sujud, berdiri dan duduk — akan beribadah kepada-Nya dengan
(amalan) itu.
Dikatakan bahwa di langit terdapat
sejumlah malaikat yang selalu mengerjakan salat. Mereka dijuluki sebagai pembantu Allah Yang
Maha Pengasih (khoddaamur Rahman).
Para malaikat itu membanggakan salatnya kepada malaikat-malaikat yang
lain.
Juga dikatakan bahwa jika seorang
mukmin mengerjakan salat dua rakaat, maka 10 shof malaikat, yang setiap shofnya
terdiri dari 10.000 malaikat, akan merasa takjub melihatnya. Demikianlah Allah membanggakan orang yang
salat kepada 100.000 malaikat.
Orang yang mengerjakan salat adalah
makhluk pilihan Allah, pewaris surga-Nya, akan selamat dari negeri kemurkaan
dan terhindar dari kutukan-Nya. Semoga
Allah menjadikan kita orang-orang yang khusyu’ dalam salat.
Abu Darda` berkata, “Hamba Allah yang
terbaik adalah yang memperhatikan matahari, bulan dan awan untuk berdzikir
kepada Allah, yakni untuk mengerjakan salat.”
Diriwayatkan pula bahwa amal yang
pertama kali diperhatikan oleh Allah adalah salat. Jika salat seseorang cacat, maka seluruh
amalnya akan ditolak.
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Abu Hurairah, perintahkanlah
keluargamu untuk salat, karena Allah akan memberimu rezeki dari arah yang tidak
pernah kamu duga.”
Atha’ Al-Khurasaniy berkata, “Sekali
saja seorang hamba bersujud kepada Allah di suatu tempat di bumi, maka tempat
itu akan menjadi saksinya kelak di hari kiamat.
Dan ketika meninggal dunia tempat sujud itu akan menangisinya.”
Rasulullah SAW bersabda:“Salat
adalah tiang agama, barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama,
dan barang siapa merobohkannya, maka ia telah merobohkan agama. (HR
Baihaqi).
Barang siapa meninggalkan salat dengan
sengaja, maka ia telah kafir.”
(HR Bazzar dari Abu Darda`)
“Barang siapa bertemu Allah sedang ia
mengabaikan salat, maka Allah sama sekali tidak akan mempedulikan
kebaikannya.” (HR Thabrani)
“Barang siapa meninggalkan salat
dengan sengaja, maka terlepas sudah darinya jaminan Muhammad.” (HR
Ahmad dan Baihaqi)
“Allah telah mewajibkan salat lima
waktu kepada hambaNya. Barang siapa
menunaikan salat pada waktunya, maka di hari kiamat, salat itu akan menjadi
cahaya dan bukti baginya. Dan barang
siapa mengabaikannya, maka ia akan dikumpul-kan bersama firaun dan Haman.” (HR Ibnu Hibban dan Ahmad) .
Diriwayatkan bahwa, ketika Jibril AS
turun berjumpa Nabi SAW, ia berkata, “Wahai Muhammad, Allah tidak akan menerima
puasa, zakat, haji, sedekah, dan amal saleh orang yang meninggalkan salat. Ia dilaknat di dalam Taurat, Injil, Zabur dan
Furqon (Quran). Wahai Muhammad, demi
Yang telah mengutusmu sebagai nabi pembawa kebenaran, sesungguhnya orang yang
meninggalkan salat setiap hari memperoleh 1000 laknat dan murka. Para malaikat melaknatnya dari langit pertama
hingga ketujuh. Wahai Muhammad, orang
yang meninggalkan salat tidak memperoleh minuman dari haudh (telaga),
tidak mendapat syafaatmu, dan ia tidak termasuk dalam umatmu. Ia tidak berhak: dijenguk ketika sakit,
diantarkan jenazahnya, diberi salam, diajak makan dan minum, ia juga tidak
berhak memperoleh rahmat Allah.
Tempatnya kelak adalah dasar neraka yang paling dalam bersama
orang-orang munafik. Siksanya akan dilipatgandakan. Dan di hari kiamat, ia akan datang dengan tangan
terikat dilehernya. Para malaikat
memukulinya. Pintu neraka jahanam akan
dibukakan baginya dan ia melesat bagai anak panah ke dalamnya, terjun dengan
kepala lebih dahulu, menukik ke tempat Qorun dan Haman di dasar neraka yang
paling dalam.
Sewaktu orang yang tidak salat
menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, makanan itu berkata, “Wahai musuh Allah,
semoga Allah melaknatmu, kamu memakan rezeki Allah, namun tidak menunaikan
kewajiban-kewajiban-Nya.”
Pakaian yang ia kenakan melepaskan
diri dari jasadnya dan berkata, “Andaikan Allah tidak menundukkanku untukmu
tentu aku telah lari meninggalkanmu.”
Sewaktu ia pergi, rumahnya berkata,
“Semoga Allah tidak menemanimu dalam perjalanan, tidak menjaga hartamu, dan
tidak memulangkanmu kepada keluargamu dalam keadaan selamat.”4
Ia akan mati sebagai Yahudi dan
dibangkitkan sebagai Nasrani.
Imam Sya’rawi dalam Al-‘Uhud
berkata, “Kita telah terikat dalam perjanjian umum dengan Rasulullah SAW untuk
menjelaskan keutamaan salat lima waktu serta keutamaan orang yang menunaikannya
kepada para petani, kaum awam, dan orang-orang bodoh yang meninggalkan salat.”
Beliau lebih menekankan masalah salat
sebagaimana Allah dan rasul-Nya.
Banyak kaum fakir miskin dan penuntut
ilmu yang telah melupakan salat. Saat
ini kalian melihat para penuntut ilmu bergaul dengan orang yang meninggalkan
salat, baik itu anaknya, pembantunya, temannya, atau pun lainnya. Ia makan dan tertawa bersama mereka. Mempekerjakan mereka dalam perdagangan,
pembangunan dan usaha-usaha lain. Mereka
sama sekali tidak pernah menjelaskan tentang dosa orang yang meninggalkan salat
dan tentang pahala orang yang mengerjakannya.
Sikap ini termasuk hal-hal yang dapat merobohkan tiang-tiang agama.
Karena itu, wahai saudaraku,
terangkanlah kepada orang-orang bodoh itu kewajiban agama yang telah mereka
tinggalkan, jika tidak, maka kalianlah yang pertama kali akan dibakar oleh api
neraka, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis sahih. Mengapa?
Karena kalian masuk dalam kategori orang-orang yang mengetahui, namun
tidak mengamalkan ilmunya, meskipun dalam masyarakat kamu tidak dipandang
sebagai orang yang faqih.
Saudara-saudaraku, ketahuilah, bahwa
sebagaimana bencana itu turun ke setiap tempat yang penghuninya meninggalkan
salat, maka ia pun akan diangkat dari setiap tempat yang penghuninya
mengerjakan salat.
Saudara-saudaraku, jangan sekali-kali
kalian menganggap mustahil terjadi gempa bumi, bencana, dan musnahnya suatu
daerah yang penghuninya meninggalkan salat.
Jangan pula kalian berkata, “Kami telah mengerjakan salat, maka kami tak
akan terkena musibah yang menimpa mereka yang meninggalkan salat.”
Sesungguhnya, jika bencana diturunkan
ke suatu negeri, ia akan menimpa semua penduduknya: yang saleh maupun durhaka.
Sebab, penduduk yang saleh tidak menyeru kepada kebaikan, tidak mencegah
kemungkaran, dan tidak memutuskan hubungan dengan mereka karena Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala
sesuatu.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari
Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Katakanlah:
Ya Allah, jangan jadikan seorang pun
di antara kami celaka dan diharamkan dari kebaikan.
Kemudian beliau bertanya, “Tahukah
kalian siapakah orang yang celaka dan diharamkan dari kebaikan?”
“Siapa, ya Rasulullah?”
“Orang yang meninggalkan salat,” jawab
beliau.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Bazzar, (pent. ketika Mi’roj) Nabi SAW mendapati kaum yang membenturkan batu ke
kepala mereka. Setiap kali kepala mereka
pecah, kepala itu segera kembali utuh seperti semula. Demikianlah mereka melakukan pekerjaan itu
berulang kali. Beliau bertanya kepada
Jibril:
“Wahai Jibril, siapakah mereka
itu?” “Mereka adalah orang-orang yang
kepalanya merasa berat untuk mengerjakan salat,” jawab Jibril.
Abu Ya’la meriwayatkan dari Mus‘ab bin
Sa’d dengan sanad hasan, beliau berkata:
“Wahai ayahku, aku mendapati firman Allah SWT:
Orang-orang yang lalai dari salatnya.
(QS Al-Ma’un, 107:5) Siapakah
manusia yang bisa benar-benar khusyu’?
Siapakah manusia yang mampu tidak berbicara dengan dirinya sewaktu salat?”
“Bukan begitu, yang dimaksud ayat itu
adalah orang-orang yang menunda-nunda salat hingga keluar dari waktunya,” jelas
ayahnya.
Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam
ada suatu lembah yang bernama Wail.
Andaikan semua gunung yang ada di dunia dijatuhkan ke dalamnya, maka
gunung-gunung itu akan meleleh karena panasnya yang sangat dahsyat. Wail tersebut adalah tempat bagi
orang-orang yang meremehkan dan suka mengakhirkan salat (hingga keluar dari
waktunya). Kecuali jika mereka bertaubat
kepada Allah SWT, dan menyesali apa yang telah mereka lakukan.
Diriwayatkan pula, bahwa seorang
wanita Israil datang menemui Nabi Musa AS.
“Wahai utusan Allah, Aku telah berbuat
dosa, namun aku telah bertobat kepada Allah SWT. Doakanlah agar Allah mengampuni dan menerima
tobatku!” pinta wanita itu
“Apakah sebenarnya dosamu itu?” tanya
Nabi Musa AS.
“Wahai nabiyullah, aku telah
berzina, dan anak hasil perzinaan itu kubunuh.”
“Enyahlah kau, wahai orang durhaka,
jangan sampai api turun dari langit membakar kami karena perbuatan burukmu.”
Wanita itu lalu keluar meninggalkan
Nabi Musa dengan hati hancur.
Malaikat Jibril AS lalu turun dan
berkata, “Wahai Musa, tahukah kamu orang yang lebih buruk darinya?”
“Orang yang meninggalkan salat,” jawab
Musa AS.
Seorang salaf menguburkan saudara
perempuannya yang wafat. Tanpa
sepengetahuannya, kantong uangnya yang berisi beberapa dirham terjatuh ke liang
kubur. Setibanya di rumah, ia baru menyadari bahwa kantong uangnya telah
hilang. Ia pun lalu kembali kekuburan.
Saat itu para pelayat telah pulang. Ia mulai menggali kuburan yang masih baru
itu. Belum berapa dalam galian itu, tiba-tiba menyemburlah kobaran api dari
dalam kubur. Ia segera menutup kembali kuburan itu dengan tanah. Dengan perasaan sedih, ia pulang ke rumah
menemui ibunya.
“Ibu, ceritakanlah apa yang dilakukan
saudariku semasa hidupnya?”
“Mengapa kau tanyakan hal ini?” tanya
sang ibu penasaran.
“Dari dalam kuburnya keluar kobaran
api, Bu!”
Mendengar ini, sang ibu menangis.
“Anakku, dulu saudarimu sering melalaikan dan mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya,” jelas ibunya.
“Anakku, dulu saudarimu sering melalaikan dan mengakhirkan salat hingga keluar dari waktunya,” jelas ibunya.
Al-‘Amiri, dalam kitabnya, Bahjah,
setelah menyebutkan tata cara salat khauf, ia menulis, “Salat khauf ini
merupakan dalil paling kuat yang menjelaskan bahwa tidak ada keringanan untuk
meninggalkan atau merubah waktu salat dari yang telah ditentukan. Sebab, jika boleh, tentu para mujahid yang
memerangi musuh-musuh Islam bersama Rasulullah SAW lebih berhak melakukannya.
Karena alasan inilah maka salat berbeda dengan semua ibadah yang lain.
Kewajiban ibadah lain gugur jika ada udzur5. Ibadah lain juga memiliki keringanan, bahkan
kadang kala ada penggantinya6 (niyaabaat). Orang yang
meninggalkan kewajiban-kewajiban lain tidak wajib dibunuh, tetapi orang yang
meninggalkan salat karena malas, ia dapat dikenai hukum had, dibunuh,
dan darahnya halal7. Kewajiban salat ini bergantung pada kekuatan
akal, bukan pada kekuatan fisik. Dalilnya: Orang yang tidak mampu mengerjakan
salat dengan berdiri, ia boleh mengerjakannya dengan duduk, jika tidak mampu
duduk, ia boleh melakukannya dengan berbaring pada sisi kanan tubuh, jika tidak
mampu, maka boleh dilakukan dengan telentang dan isyarat mata. Karena semua inilah maka salat disamakan
dengan iman yang tidak bisa hilang begitu saja.
Rasulullah SAW bersabda: “Batas
seorang hamba dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR Muslim)
“Perjanjian antara kita dengan mereka
adalah salat, barang siapa meninggalkan salat maka ia telah kufur.” (HR Turmudzi, dan menurutnya sahih)
Andaikan ada seorang yang telah
berihram; ia datang dari daerah yang sangat jauh; telah berusaha keras untuk
mencapai Arofah sebelum terbitnya fajar malam Nahr; dan saat itu ia belum
menunaikan salat Isya; sedangkan, apabila waktu yang tersisa digunakan untuk
mengerjakan salat Isya, ia akan kehilangan hajinya, maka menurut para ulama,
orang ini tidak boleh meninggalkan salat, dan tidak boleh pula mengerjakannya
seperti salat khauf. Demikianlah menurut pendapat yang paling benar. Sebab,
salat lebih utama daripada haji, dan waktu haji cukup luas, yakni sepanjang
umur manusia.”
Masyarakat sangat mencela orang yang
tanpa udzur membatalkan puasa di bulan Ramadhan, namun mereka tidak
mencela orang yang meninggalkan salat, padahal ancaman hukumannya lebih
berat. Mereka mencela orang yang
meninggalkan salat Jumat, namun tidak mencela orang yang meninggalkan salat
berjamaah, padahal kedua persoalan itu mempunyai kedudukan yang sama.
Sepantasnya orang yang meninggalkan salat dijauhkan dari mesjid-mesjid kaum
muslimin, dan diasingkan dari pertemuan-pertemuan mereka yang mulia, serta muwakalah8
dan munakahahnya9 dianggap hina. Disamping itu, ia juga harus dinasihati dan
diberi penjelasan bahwa perbuatannya itu amat buruk dan darahnya dapat menjadi
mubah. Diharapkan dengan cara ini, ia menjadi sadar, dan kembali mengerjakan
salat. Sesungguhnya dari Allahlah datangnya taufik.
Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:
“Barang siapa memelihara salat, Allah akan memuliakannya dengan lima hal:
1. Dihindarkan dari kesempitan hidup.
2. Diselamatkan dari siksa kubur.
3. Dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab
catatan amal dengan tangan kanan.
4. Dapat melewati jembatan (shirath) secepat kilat. 5. Dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.
1. Dihindarkan dari kesempitan hidup.
2. Diselamatkan dari siksa kubur.
3. Dikaruniai kemampuan untuk menerima kitab
catatan amal dengan tangan kanan.
4. Dapat melewati jembatan (shirath) secepat kilat. 5. Dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.
Dan barang siapa meremehkan salat,
Allah akan menyiksanya dengan 15 siksaan, yaitu 6 siksaan dalam kehidupan di
dunia, 3 siksaan ketika meninggal, 3 siksaan di alam kubur, dan 3 siksaan saat
bertemu Tuhannya di mahsyar.
Adapun 6 siksaan yang ditimpakan di
dunia adalah:
1. Dicabut keberkahan umurnya.
2. Dihapus tanda kesalehan dari wajahnya.
3. Tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang
dilakukannya.
4. Tidak diangkat ke langit doanya.
5. Tidak memperoleh bagian doa kaum sholihin.
6. Tidak beriman ketika ruh dicabut dari tubuhnya.
1. Dicabut keberkahan umurnya.
2. Dihapus tanda kesalehan dari wajahnya.
3. Tidak diberi pahala oleh Allah semua amal yang
dilakukannya.
4. Tidak diangkat ke langit doanya.
5. Tidak memperoleh bagian doa kaum sholihin.
6. Tidak beriman ketika ruh dicabut dari tubuhnya.
Adapun 3 siksaan yang ditimpakan saat
meninggal dunia ialah:
1. Mati secara hina.
2. Mati dalam keadaan lapar.
3. Mati dalam keadaan haus. Andaikata diberi minum
sebanyak lautan di bumi, ia tak akan merasa
puas.
Adapun 3 siksaan yang dilaksanakan di dalam kubur ialah:
1. Kubur menghimpit orang itu hingga tulang-tulangnya berantakan.
2. Kuburnya dibakar. Sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelejatan menahan panas.
3. Dalam kubur ia diserahkan kepada seekor ular yang bernama As-Syuja’ul ‘Aqra’. Kedua mata ular itu berujud api dan kukunya berupa besi. Panjang kukunya adalah sepanjang satu hari perjalanan. Ia akan mengenalkan diri kepada si mayit, “Aku adalah As-Syuja’ul Aqra’,” suaranya menggeledek, “Aku diperintahkan Allah SWT untuk menyiksamu, karena kau mengundurkan salat subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Dhuhur hingga Ashar, mengundurkan salat Ashar hingga Maghrib, mengundurkan salat Maghrib hingga Isya’, serta mengundurkan salat Isya hingga Subuh.”
1. Mati secara hina.
2. Mati dalam keadaan lapar.
3. Mati dalam keadaan haus. Andaikata diberi minum
sebanyak lautan di bumi, ia tak akan merasa
puas.
Adapun 3 siksaan yang dilaksanakan di dalam kubur ialah:
1. Kubur menghimpit orang itu hingga tulang-tulangnya berantakan.
2. Kuburnya dibakar. Sepanjang siang dan malam tubuhnya berkelejatan menahan panas.
3. Dalam kubur ia diserahkan kepada seekor ular yang bernama As-Syuja’ul ‘Aqra’. Kedua mata ular itu berujud api dan kukunya berupa besi. Panjang kukunya adalah sepanjang satu hari perjalanan. Ia akan mengenalkan diri kepada si mayit, “Aku adalah As-Syuja’ul Aqra’,” suaranya menggeledek, “Aku diperintahkan Allah SWT untuk menyiksamu, karena kau mengundurkan salat subuh hingga terbit matahari, mengundurkan salat Dhuhur hingga Ashar, mengundurkan salat Ashar hingga Maghrib, mengundurkan salat Maghrib hingga Isya’, serta mengundurkan salat Isya hingga Subuh.”
Setiap kali ular itu memukul, tubuh si
mayit melesak 70 hasta10 ke dalam bumi. Ia disiksa di dalam kuburnya hingga hari
kiamat. Di hari kiamat nanti pada
wajahnya tertulis tiga baris kalimat: Wahai orang yang mengabaikan hak-hak
Allah, wahai orang yang dikhususkan untuk menerima siksa Allah, di dunia kau
telah mengabaikan hak-hak Allah, maka hari ini berputusasalah kamu dari
rahmat-Nya.
Tiga siksaan yang dilakukan ketika
bertemu dengan Tuhannya adalah:
1. Ketika langit terbelah, malaikat menemuinya dengan membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya, kemudian memasukkan ujung rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadangkala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Sang malaikat berkata, “Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abbas RA berkata andaikata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.
2. Allah tidak memandangnya.
3. Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh
siksa yang amat pedih.
1. Ketika langit terbelah, malaikat menemuinya dengan membawa rantai sepanjang 70 hasta untuk mengikat lehernya, kemudian memasukkan ujung rantai itu ke dalam mulut dan mengeluarkannya dari duburnya. Kadangkala ia mengeluarkannya dari bagian depan atau belakang tubuhnya. Sang malaikat berkata, “Inilah balasan bagi orang yang mengabaikan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan Allah.” Ibnu Abbas RA berkata andaikata satu mata rantai itu jatuh ke dunia, niscaya cukup untuk membakarnya.
2. Allah tidak memandangnya.
3. Allah tidak menyucikannya, dan ia memperoleh
siksa yang amat pedih.
Diriwayatkan bahwa di neraka jahanam
ada sebuah lembah yang bernama Lamlam.
Lembah itu dihuni oleh ular-ular yang tubuhnya segemuk leher onta dan
sepanjang perjalanan sebulan. Ia akan menggigit orang yang tidak mengerjakan
salat, dan bisanya akan mendidih selama 70 tahun untuk melumatkan daging orang
itu.
Dalam berbagai hadis sebelumnya telah
dijelaskan bahwa orang yang meninggalkan salat menjadi kafir dan musyrik, tidak
mendapat jaminan dari Allah dan rasul-Nya, terhapus amalnya, dan ia menjadi
kehilangan agama dan iman. Banyak
sahabat, tabi‘in dan orang-orang setelah mereka yang berpendapat
demikian, mereka berkata bahwa barang siapa dengan sengaja meninggalkan salat
hingga keluar dari waktunya, maka ia telah kafir dan darahnya halal. Kelompok sahabat yang berpendapat demikian
adalah Umar, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Ibnu Mas‘ud,
Ahmad bin Hambal, Ishak bin Rahawaih, Abdullah bin Mubarak, An-Nakhai, Hakam
bin Uyainah, Abu Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Dawud At-Thoyalisi, Abu Bakar bin Abu
Syaibah, Zuhair bin Harb dan lain-lainnya.
Mereka mengatakan bahwa siapa saja meninggalkan salat, maka ia telah kufur,
dan halal darahnya. Ibn Nashr mengatakan
bahwa sejak zaman Nabi SAW orang-orang yang berilmu berpendapat, bahwa orang
yang meninggalkan salat tanpa udzur hingga keluar waktunya, maka ia
telah kufur.”
Wahai saudara-saudaraku, kurasa
hadis-hadis yang berkaitan dengan orang yang meninggalkan salat di atas telah
cukup bagimu. Sebenarnya dengan
berpaling dari Tuhannya saja orang itu sudah cukup merugi. Sebab, Allah telah menciptakan dan membentuk
manusia dalam sebaik-baik bentuk, kemudian menumbuhkan, memelihara, memberinya
makan dan minum, menunjukkan jalan keselamatan, dan memperingatkan dari tipu
daya musuh-musuhnya. Bagaimana seorang
hamba yang lemah dan hina ini bermaksiat kepada Tuhannya yang Maha Pemurah, dan
kemudian menaati setan terkutuk yang menjerumuskannya ke dalam jurang kehancuran?! Sungguh celaka orang yang mengikuti dan memenuhi panggilan setan, melanggar perintah
Tuan dan Majikannya yang selalu mengajak kepada kebaikan, Maha Kuasa untuk
memberinya manfaat dan mencelakakannya. Alangkah buruk perbuatannya! Alangkah besar bencana yang menimpanya! Alangkah tidak menyenangkan pagi dan sore
harinya. Alangkah buruk lahir dan
batinnya.
Oleh karena itu, wahai
saudara-saudaraku, semoga Allah merahmatimu, jika muadzin menyerukan adzan,
bersegeralah untuk menaati Allah Yang Maha Pengasih. Waspadalah, jangan sampai
setan melalaikan dan membuatmu malas dan menunda-nunda salatmu, karena
sesungguhnya perbuatan itu akan menjadikanmu hina dan merugi.
Abu Hurairah RA berkata, “Memenuhi
telinga anak cucu Adam dengan cairan timah panas lebih baik daripada jika ia
mendengar adzan, namun tidak menjawab panggilannya.”
Rasulullah SAW bersabda tentang tafsir
firman Allah SWT: Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu.
(QS Ali-Imran, 3:133)
(QS Ali-Imran, 3:133)
Ampunan yang dimaksud adalah takbiratul
ihram yang diucapkan seiring dengan takbiratul ihram imam.
Ketahuilah wahai saudara-saudaraku,
semoga Allah memberi kalian taufik dan hidayah, sesungguhnya kalian wajib
memerintahkan isteri dan anak-anak kalian untuk menunaikan dan memelihara
salat, karena anggota keluarga kalian adalah amanat yang dititipkan Allah
kepada kalian. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kalian mengkhianati Allah dan rasul-Nya, dan janganlah kalian
mengkhianati pula amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian sedangkan
kalian mengetahui.” (QS Al-Anfal, 8:27)
Rasulullah SAW bersabda: “Allah,
Allah (hati-hati) terhadap wanita, karena sesungguhnya mereka adalah amanat
(yang dipercayakan Allah) kepada kalian.”
Barang siapa tidak memerintahkan dan
mengajar isterinya mengerjakan salat, maka ia telah mengkhianati Allah dan
rasulNya. Ia berhak disiksa dan diberi
balasan paling buruk. Ia termasuk ke
dalam kelompok orang celaka yang disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW tentang
lima orang yang dimurkai Allah, dan mereka akan menghuni neraka. Salah satu di antara orang yang dimurkai
Allah adalah orang yang tidak memerintahkan isteri dan anak-anaknya untuk
mengerjakan salat.
Seorang yang tercerahkan (munawwar)
bermimpi melihat Rasulullah SAW bersabda, “Isteri-isteri keluarga fulan telah
diceraikan.” Kemudian beliau SAW
menyebutkan nama kaum wanita yang meninggalkan salat.
Mimpi ini sesuai dengan madzhab Imam
Ahmad yang mengatakan bahwa orang yang meninggalkan salat telah kufur, dan akad
nikahnya batal. Camkanlah sabda
Rasulullah SAW dalam mimpi itu, karena Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Barangsiapa melihatku dalam mimpi
maka ia telah benar- benar melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa
menyerupaiku.” (HR
Bukhari, Muslim, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)
Kebaikan apa yang bisa diharapkan oleh
wanita yang tidak beragama, atau suami yang tidak memerintahkan isteri, anak
dan saudara-saudaranya untuk mengerjakan salat?! Isteri yang tidak mengerjakan salat dilaknat,
dan tidak mendapatkan rahmat. Jika isteri tidak patuh kepada suami, maka
hendaknya sang suami meninggalkannya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah
dan rasul-Nya. Wali wanita itu hendaknya
membantu suaminya, jika tidak, maka ia pun akan masuk neraka, mendapat murka
Allah, dan siksa yang pedih. Oleh karena
itu, saudara-saudaraku rahimakumullah, saling tolong-menolonglah dalam
berbuat taat kepada Allah sehingga kalian dapat berbahagia, sukses dan selamat
dari siksa-Nya. Jangan kalian menganggap
enteng masalah ini! Demi Allah, hanya
orang yang tidak mendapat kebaikan agama dan pantas memperoleh siksa sajalah
orang-orang yang meremehkan masalah ini.
Allah SWT berfirman:
“Dan tetaplah atas mereka keputusan
siksa atas umat-umat terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia, sesungguhnya
mereka adalah orang-orang yang merugi.”
(QS Fushilat, 41:25)
Saudara-saudaraku, rahimakumullah,
ketahuilah bahwa, karena pahala salat sangat besar, dan siksa bagi orang yang
meninggalkannya amat pedih, maka nafsu merasa berat untuk mengerjakannya. Allah berfirman:
“Dan jadikanlah sabar dan salat
sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya
yang demikian itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS Al-Baqarah, 2:45)
Allah juga telah berfirman kepada
Nabi-Nya SAW:
“Perintahkanlah keluargamu untuk
mendirikan salat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.”
(QS Thaaha, 20:132)
(QS Thaaha, 20:132)
Dalam salat terdapat unsur taklif
ubudiyah (paksaan ibadah) untuk memenuhi haq rububiyyah
(hak-hak ketuhanan). Setiap orang
hendaknya mengerjakan salat sesuai kemampuannya.
Tingkat kesabaran orang awam adalah
terletak pada kesediaannya untuk bersuci dan melaksanakan salat pada
waktunya. Perbuatan ini menjanjikan
pahala yang besar dan kebaikan yang amat banyak.
Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai
amal yang paling utama, beliau menjawab: “Salat pada waktunya.” (HR
Ahmad dan Ibnu Hibban)
Sedangkan tingkat kesabaran orang
khusus (khawash) adalah terletak pada pelaksanaan sunah-sunah salat dan
usaha untuk memelihara hati agar tidak lalai sewaktu salat.
Saudara-saudaraku, rahimakumullah,
kerjakanlah salat di mesjid; biasakanlah salat berjamaah! Hakim dalam kitab Al-Mustadrak
meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW menyebutkan tiga orang yang dilaknat Allah,
satu diantaranya adalah orang yang diseru oleh muadzin: Mari kerjakan salat, namun ia tidak menjawab.
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud RA
berkata:
“Orang yang ingin bertemu dengan Allah
sebagai muslim kelak di hari kiamat, hendaknya ia memelihara salat lima waktu
ketika diseru untuk menunaikannya.
Karena, sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada nabi-Nya
jalan-jalan petunjuk dan salat adalah salah satunya. Andaikata kalian mengerjakan salat di rumah,
sebagaimana kebiasaan orang yang meninggalkan salat berjamaah, berarti kalian
meninggalkan sunah nabi kalian, dan jika kalian meninggalkan sunah nabi kalian,
kalian akan tersesat. (Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud
disebutkan: Maka kamu pasti akan
kufur) Dahulu, di masa nabi, tidak
ada yang meninggalkan salat berjamaah kecuali orang munafik yang telah dikenal
kemunafikannya. Adakalanya seorang
lelaki pergi ke mesjid dengan di papah oleh dua orang agar dapat mengerjakan
salat.” (Diriwayatkan Muslim, Abu
Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Nasai dan Darimi)
Imam Ahmad dan Thabrani meriwayatkan
bahwa Ibnu Mas’ud berkata:
“Adalah perangai yang sangat buruk,
kufur dan nifak bagi orang yang mendengar seruan untuk salat, namun tidak
menjawabnya.”
Thabrani juga meriwayatkan bahwa Ibnu
Mas‘ud berkata: “Cukup sebagai (tanda) kemalangan dan kegagalan seorang
mukmin, jika ia mendengar muadzin menyerukan panggilan untuk salat (tastwib:
assholaatu khoirum minannaum), namun ia tidak menjawabnya.”
Abu Dawud meriwayatkan bahwa Ibnu
Maktum menemui Nabi SAW.
“Ya Rasulullah, sesungguhnya di kota
Madinah banyak binatang buas, sedangkan aku buta, rumahku jauh, dan aku tidak
memiliki seseorang yang dapat menuntunku, bolehkah aku salat di rumah?”
“Apakah kamu mendengar suara Adzan?”
tanya Rasulullah SAW. “Ya.”
“Penuhilah panggilannya, aku tidak
melihat adanya keringanan bagimu.”
Dalam tafsir firman Allah SWT: “Dan
sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) di seru untuk bersujud, dan mereka dalam
keadaan sejahtera.”
(QS Al- Qalam, 68:43)
(QS Al- Qalam, 68:43)
Ka’bul Akhbar berkata, “Demi Allah,
ayat ini turun untuk orang-orang yang meninggalkan salat berjamaah.”
Ibnu Abbas RA pernah ditanya tentang
orang yang berpuasa di siang hari dan ibadah di malam hari, namun tidak
mengerjakan salat berjamaah, dan tidak pula mengerjakan salat Jumat, maka
beliau menjawab, “Jika meninggal, ia akan masuk neraka. Adakah ancaman yang lebih keras daripada
ancaman bagi orang yang meninggalkan salat berjamaah tanpa udzur?”
Rasululah bersabda: “Berikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang berjalan ke mesjid di kegelapan malam bahwa mereka akan
mendapat cahaya sempurna di hari kiamat kelak.”
(HR Turmudzi dan Abu Dawud)
“Tidak ada salat bagi tetangga mesjid,
kecuali di mesjid.” (HR
Daruquthni)
“Salat jamaah 27 derajat lebih utama
daripada salat sendiri.” (HR
Bukhari dan Muslim)
“Aku ingin menyuruh seseorang menjadi
imam, kemudian aku pergi mendatangi orang-orang yang meninggalkan salat
jamaah. Lalu Kuperintahkan mereka (para
sahabat) untuk membakar rumah mereka berikut penghuninya dengan seikat
kayu.”
(HR Bukhari, Muslim dan Turmudzi)
(HR Bukhari, Muslim dan Turmudzi)
Sebagian imam-imam madzhab bahkan
mengatakan bahwa salat berjamaah hukumnya fardhu ain11. Banyak hadis dan akhbar yang
menjelaskan keutamaan salat berjamaah.
Andaikan salat berjamaah tidak memiliki keutamaan selain: “satu langkah
orang yang berjalan menuju mesjid untuk mengerjakan salat berjamaah di catat
sebagai kebaikan dan langkah yang lain sebagai penghapus kesalahan”, maka itu
pun telah mencukupi.
Dari Abu Hurairah RA:
“Barang siapa berwudhu dengan baik,
kemudian dengan sengaja pergi ke mesjid, maka ia (dihitung) dalam keadaan salat
selama ia sengaja menuju mesjid. Dan
satu langkahnya dicatat sebagai kebaikan dan langkahnya yang lain sebagai
penghapus dosa (kejahatan).”
Hatim Al-Ashom berkata, “Pernah aku
tertinggal salat berjamaah sekali, saat itu hanya Abu Ishak Al-Bukhari yang
ber-takziah (berbela sungkawa) kepadaku, padahal ketika anakku wafat,
lebih dari 10 ribu orang men-takziah-iku. Semua ini karena masyarakat menganggap
musibah yang menimpa agama lebih ringan dibanding musibah duniawi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa salat berjamaah selama
40 hari tanpa tertinggal takbiratul ihram (imam), Allah akan mencatat baginya
dua keselamatan: selamat dari kemunafikan dan selamat dari api neraka.” (HR Ibnul Mubarak dari hadis Dhamrah
bin Habib)
Rasulullah juga bersabda:
“Barang siapa mengerjakan satu salat,
ia telah memenuhi nahr12nya dengan ibadah.”
Diriwayatkan bahwa ketika Maimun bin
Mihran datang ke mesjid dan diberitahu bahwa jamaah telah selesai
mengerjakan salat, ia berkata dengan penuh penyesalan, “Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi raaji’un, sesungguhnya keutamaan salat berjamaah ini lebih
kucintai daripada menjadi penguasa Iraq.”
Disebutkan bahwa kelak di hari kiamat
ada sekelompok manusia yang dikumpulkan dengan wajah seperti bintang, para
malaikat bertanya, “Apakah amal kalian?”
“Dahulu, bila mendengar Adzan, kami
segera bersuci. Tidak ada yang
menyibukkan kami selain itu,” jawab mereka.
“Kalian pantas memperoleh karunia ini,
masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”
Kemudian dikumpulkan sekelompok
manusia dengan wajah seperti bulan, para malaikat bertanya, “Apakah
sesungguhnya amal kalian?”
“Dahulu, sebelum masuk waktu salat,
kami telah berwudhu.”
“Kalian pantas memperoleh karunia ini,
masuklah ke dalam surga sesuai amal kalian.”
Kemudian dikumpulkan pula sekelompok
orang dengan wajah seperti matahari.
“Apakah gerangan amal kalian?” tanya
malaikat.
“Dahulu, ketika adzan diserukan, kami
sudah berada di mesjid.”
“Kalian memiliki kedudukan paling
tinggi dan paras paling elok. Masuklah
ke dalam surga sesuai amal kalian!”
Hadis-hadis yang menjelaskan keutamaan
salat berjamaah tak terhitung jumlahnya.
Oleh karena itu, saudara-saudaraku, rahimakumullaah, kumpulkan
semangat kalian untuk melakukan salat berjamaah. Mintalah kepada Allah agar kalian tidak termasuk
orang yang mengabaikan dan meremehkannya.
Bersegeralah dan biasakanlah salat berjamaah, karena sesungguhnya salat
berjamaah adalah laba dari orang-orang yang beruntung dalam perdagangan,
keberhasilan dari orang-orang yang bertakwa dan berusaha keras, kegemaran
orang-orang yang zuhud dan saleh, kebiasaan orang-orang yang berbahagia dan
memperoleh hidayah, kesenangan para pencinta (muhibbin) yang terpilih,
tujuan para penghulu kaum arifin, dan tujuan para ulama yang mengamalkan
ilmunya. Mereka tidak mempedulikan
segala sesuatu yang dapat memalingkan perhatian mereka dari keutamaan itu. Hati mereka selalu memendam kerinduan pada
salat berjamaah, dan menyesal jika sampai tertinggal. Jika kesempatan untuk salat berjamaah
terlewatkan, mereka diberi ucapan bela sungkawa sebagaimana orang yang tertimpa
musibah. Mereka sangat sedih seperti
pecinta yang dipisahkan dari kekasihnya.
Hal-hal seperti ini sungguh asing di zaman ini. Lambang-lambang agama telah hilang, kefasikan
dan maksiat merajalela. Kebohongan
merebak kemana-mana.
Sehingga orang yang santun (halim) pun
menjadi bingung.
Semoga Allah selalu melimpahkan
rahmat-Nya kepada orang yang bersegera mengerjakan ketaatan, dan melazimkan
diri untuk salat berjamaah. Sebab, salat
adalah keuntungan yang tak ternilai, dan merupakan peringkat kesuksesan yang
paling tinggi.
Kitab ini kuhadiahkan karena cinta dan
kasih sayangku kepada kalian. Jika
kalian patuh dan mengamalkan isinya, kalian akan bahagia dan sukses. Namun, jika kalian menolak dan berpaling
darinya, maka aku telah menyampaikan berbagai ancaman, dan Allah Yang Maha
Tinggi dan Maha Besarlah yang akan menghakiminya. Aku selalu berprasangka baik kepada
Allah. Kemurahan-Nya sangat luas bagi
orang yang menaruh harapan.
Ya Allah,
selamatkanlah kami dari semua hal yang menghinakan
tunjukkanlah kepada kami semua kebajikan,
lipat gandakanlah bagi kami berbagai kebaikan
ampunilah kami dari dosa dan kesalahan
bahagiakan kami semasa hidup dan setelah kematian,
wahai pemilik kebaikan, pengangkat kedudukan,
Tuhan bumi dan langit sekalian.
limpahkan sholawat dan salam kepada sayidina Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat.
(B:66)
Ya Allah,
selamatkanlah kami dari semua hal yang menghinakan
tunjukkanlah kepada kami semua kebajikan,
lipat gandakanlah bagi kami berbagai kebaikan
ampunilah kami dari dosa dan kesalahan
bahagiakan kami semasa hidup dan setelah kematian,
wahai pemilik kebaikan, pengangkat kedudukan,
Tuhan bumi dan langit sekalian.
limpahkan sholawat dan salam kepada sayidina Muhammad, juga kepada keluarga dan para sahabat.
(B:66)
Catatan kaki:
1. Baqa adalah salah satu sifat
wajib bagi Allah, yaitu maha kekal.
2. Qidam adalah salah satu sifat wajib bagi Allah, yang artinya tidak didahului oleh sesuatu pun.
2. Qidam adalah salah satu sifat wajib bagi Allah, yang artinya tidak didahului oleh sesuatu pun.
3. Mahsyar = padang Mahsyar
adalah tempat dikumpulkannya manusia pada hari kiamat, sesudah dibangkitkan
dari alam kubur.
4. Doa keluar kota. Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW jika telah duduk di atas kendaraannya untuk melakukan perjalanan, beliau bertakbir tiga kali kemudian mengucapkan:
4. Doa keluar kota. Abdullah bin Umar RA meriwayatkan bahwa sesungguhnya dahulu Rasulullah SAW jika telah duduk di atas kendaraannya untuk melakukan perjalanan, beliau bertakbir tiga kali kemudian mengucapkan:
Maha Suci Tuhan Yang telahmenundukkan
semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya
kami akan kembali kepada Tuhan kami.
(QS Az-Zukhruf, 43:13-14)
Ya Allah, dalam perjalanan ini, kami
meminta kebaikan, takwa, dan amal yang Engkau ridhoi. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami dan
lipatlah jarak jauhnya. Ya Allah, Engkau
adalah Teman perjalanan dan Wakil keluarga.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari semua kesulitan
dalam perjalanan, kesedihan akibat musibah dan tempat kembali yang buruk pada
harta, keluarga dan anak.
5. Udzur = halangan atau
rintangan yang menyebabkan seseorang diberi keringanan (rukhshah) dalam
menunaikan kewajiban yang disyariatkan Allah SWT.
6. Misalnya puasa. Orang yang lanjut usianya dan tidak kuat
menunaikan puasa, dapat mengganti puasanya dengan mengeluarkan fidyah.
7. Dari Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
7. Dari Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Aku diperintahkan untuk memerangi
manusia hingga mereka mengakui tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, mendirikan salat dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan semua itu maka
mereka telah terlindung darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak
islam. Dan perhitungannya terserah
Allah.” (HR Bukhari
dan Muslim)
8. Muwakalah adalah kegiatan
untuk mewakili seseorang (atau wali) dalam suatu pernikahan.
9. Munakahah adalah kegiatan
untuk menikahkan seseorang.
10. Satu hasta = + 18 inci = + 45.72 cm.
10. Satu hasta = + 18 inci = + 45.72 cm.
11. Fardhu ain = kewajiban individu.
12. Nahr = tenggorokan, sebelah atas
dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar